Kasus Difteri di Sukabumi Renggut Satu Nyawa

71
Penderita penyakit difteri di Sukabumi menghembuskan napas terakhirnya setelah mendapat penanganan tim medis RS Hasan Sadikin Bandung (Foto: Ist)

SUKABUMI, magnetberita.com – Kasus difteri di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat terbilang masih tinggi. Sejauh ini jumlahnya mencapai delapan orang baik status suspect maupun positif difteri.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian pada Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Hendra Priatna mengatakan, dari delapan orang yang terserang difteri, satu di antaranya meninggal dunia yakni RA (14), warga asal Kecamatan Sukaraja.

“Almarhum sempat dirawat di RS Hasan Sadikin Bandung,” terangnya kepada magnetberita.com melalui pesan aplikasi WhatsApp, Kamis (21/12/2017).

Sedangkan dari tujuh lainnya, tiga di antaranya dinyatakan negatif mengidap difteri. Mereka yakni DK (18), warga Kecamatan Cisaat; ET (26), dari Kecamatan Cikembar; dan TBK (23), warga Kecamatan Nagrak.

Empat lainnya yang positif difteri yaitu D (64), warga Kecamatan Caringin; MS (7), warga Kecamatan Sukaraja; AN (5), warga Kecamatan Cicurug; dan AR (1), warga Kecamatan Palabuhanratu.

“Semuanya tetap kita rawat di RSUD Sekarwangi dan Palabuhanratu. Tapi ada satu pasien yakni D dinyatakan sembuh dan sudah diperbolehkan pulang,” ucapnya.

Hendra menerangkan, pihaknya telah berupaya maksimal dari mulai penyelidikan apidomologi hingga aksi di lapangan dengan mengadakan pengobatan di wilayah-wilayah yang terpapar difteri. Termasuk memberikan penjelasan-penjelasan melalui penyuluhan secara maraton bahkan memberikan vaksinasi dan memfasilitasi proses rujukan ke rumah sakit.

“Difteri ada vaksinnya namanya ADS, tapi adanya di provinsi. Untuk mendapatkannya, rumah sakit yang harus mengusulkan dengan membawa bukti hasil lab dan bukti fisik serta foto penderita yang positif. Harganya relatif mahal. Untuk pencegahan bisa dengan melengkapi imunisasi di puskesmas,” jelasnya.

Adapun tanda-tanda seseorang terjangkit gejala difteri yaitu terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel; demam dan menggigil; sakit tenggorokan dan suara serak; sulit bernapas atau napas yang cepat; pembengkakan kelenjar limfe pada leher; lemas dan lelah; serta pilek yang awalnya cair tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Rep: Rudi Purwanto Chaca | Editor: Andra Daryl Permana